Jumat, 01 Agustus 2014

PENGALAMAN KEBERAGAMAAN DALAM PERSPEKTIF FENOMENOLOGI> (Psikologi Agama, Semester 5, Oleh: Achmad Rifai 11111028)

Nama            : Achmad Rifai
Nim            : 111-11-028
Progdi    /Tugas    : PAI.F/UTS Psikologi Agama
Dosen         : Dr. Mukti Ali, M.Hum.

PENGALAMAN KEBERAGAMAAN
DALAM PERSPEKTIF FENOMENOLOGI

Dalam hal ini, kaitannya untuk memenuhi tugas mandiri UTS “Psikologi Agama” saya akan menulis sebuah kisah tentang “Pengalaman Keberagamaan” pada diri saya pribadi. Berbagai pengalaman dan beberapa kisah yang saya alami mulai duduk di bangku SMP saya belum sama sekali merasakan gejala-gejala/efek dari sebuah keyakinan spiritualitas keagamaan yang saya anut, khususnya dalam beragama islam yang berhubungan dengan suatu ketaatan beribadah. Mungkin pada waktu seumuran anak SMP setiap anak belum begitu memperhatikan suatu keyakinan akan spiritualitas pada dirinya termasuk diri saya sendiri.
Menginjak lulus SMP, saya mulai menduduki di bangku SMK dan mulai dari sinilah saya bisa merasakan sedikit demi sedikit suatu gejala dari keyakinan keagamaan saya, mungkin dalam hal ini banyak faktor yang menyebabkan seseorang bisa merasakan suatu gejala-gejala yang nampak dari keyakinan keagamaan setiap individu. Misalkan, lingkungan adalah faktor utama yang mempengaruhi timbulnya gejala-gejala/efek dari pengalaman keberagamaan seseorang. Karena pada saat inilah lingkungan tempat tinggal saya, yaitu di sebuah asrama pesantren yang mana di dalamnya dipenuhi dengan pendidikan yang berbasis islami. Pengalaman keberagamaan yang saya temukan disini banyak sekali salah satunya adalah saya menganggap bahwa do’a merupakan senjata yang ampuh bagi siapapun yang meyakininya. Banyak filosofis islam yang menyatakan bahwa “do’a merupakan senjata bagi orang mukmin” di dalam hadits juga telah dijelaskannya.
Suatu kejadian yang saya alami dan benar-benar bisa dibuktikan, jarak antara sekolahan dan asrama tempat tinggal saya saling berjauhan yaitu jaraknya sekitar 5 KM. Pada waktu itu sepulang sekolah biasanya para pelajar termasuk saya biasanya naik mobil angkotan tidak terbiasa dengan jalan kaki, karena jaraknya lumayan jauh. Ketika naik pada mobil angkotan yang saya tumpangi di tengah-tengah perjalanan terjadi suatu kecelakaan karena menghindari mobil dari depannya yang ingin menabrak, maka terjadilah mobil itu tepat berada di tepi jurang dan hampir terjatuh. Saat keadaan seperti itu saya berkeyakinan dalam hati dengan berdo’a kepada Allah dengan membaca “salaamun qoulam mirrabbirrahiim” sebanyak tiga kali dan yakin bahwa hanya dengan pertolongan-Nya saya akan selamat. Dari kejadian tersebut membuktikan bahwa ada suatu pengalaman keberagamaan yang nampak dan bisa dibuktikan secara ilmiah.
Dari kejadian di atas masih banyak lagi kisah tentang pengalaman keberagamaan yang saya alami, ketika masuk di perguruan tinggi STAIN SALATIGA banyak sekali fenomena yang terjadi dalam diri saya pribadi, kaitannya dengan pengalaman keberagamaan. Setelah saya belajar di STAIN SALATIGA banyak terdapat perubahan mengenai hal yang berhubungan dengan spiritualitas terhadap diri saya pribadi. Adapun gejala-gejala yang nampak dalam diri saya pribadi mengenai keyakinan dalam beragama. Perubahan yang saya alami dari awal masuk STAIN SALATIGA sampai sekarang ini adalah suatu gejala-gejala yang timbul dalam diri saya, yaitu adanya dorongan untuk melakukan rutinitas dalam beribadah. Hal ini tidak dipungkiri, yang awalnya sebelum masuk STAIN kewajiban sholat lima waktu belum lengkap, setelah masuk STAIN ada suatu dorongan yang membuat hati saya tergugah untuk melengkapi kekurangan dalam melaksanakan suatu ibadah, terlebih-lebih yang bukan wajib melainkan sunah semuanya dilakukan dengan ringan hati dan tanpa adanya suatu paksaan. Bahkan sholat dhuha, tahajud, puasa senin kamis menjadi kebutuhan pokok yang biasa untuk dilakukan. Hal tersebut merupakan suatu gejala-gejala keberagamaan yang nampak pada diri pribadi seseorang khususnya pada diri saya sendiri.
Masih banyak lagi gejala-gejala lain yang timbul pada diri saya pribadi kaitannya dengan pengalaman keberagamaan, yaitu munculnya suatu perubahan pada sikap dan prilaku. Setelah masuk STAIN sikap dan prilakunya menjadi berbeda dan lebih sopan terhadap orang yang lebih tua, termasuk kepada kedua orang tua, guru maupun dosen, juga menghargai yang lebih muda dari kita maupun yang sepadan dengan kita. Hal tersebut mencerminkan gejala keberagamaan yang bersifat positif yang bisa dijadikan sebagai rutinitas kegiatan untuk terus dilakukan.
Pada umumnya para mahasiswa dan mahasiswi STAIN SALATIGA pasti akan memiliki sebuah pengalaman keberagamaan yang tidak sama dan memiliki eksresi yang berbeda-beda, tetapi akan memiliki gejala-gejala yang hampir sama dimiliki seperti orang lain. Suatu pengalaman keberagamaan merupakan suatu hal yang bersifat pribadi/privat, apabila saya tidak menceritakannya pasti orang lain tidak akan tahu.
Bahwa pada hakekatnya ekspresi pengalaman keberagamaan sebagai ungkapan sebuah pengalaman yang dianggap oleh pelaku pengalaman tersebut sebagai pengalaman keagamaan, artinya pelaku meyakini bahwa dalam menjelaskan pengalaman tersebut, tidak cukup dengan penjelasan-penjelasan seperti pada umumnya, tetapi harus dijelaskan dengan doktrin-doktrin agama. Pelaku pengalaman tersebut tidak menerima jika pengalaman yang dialaminya disebabkan oleh faktor-faktor psikologi atau lingkungan yang ada di sekitarnya. Dia menganggap pengalaman yang dialaminya adalah hasil dari dialog Tuhan atau pertemuan Tuhan dengan dirinya dan pengalamannya dia tafsirkan berdasarkan doktrin-doktrin agama.
Keberagamaan manusia itu bersifat subyektif yang dimanifestasikan dalam berbagai macam ungkapan pengalaman keagamaan. Salah satu tugas pokok ilmu agama adalah mengkaji struktur pengalaman keagamaan tersebut. Konstruksi dalam meneliti pengalaman keagamaan adalah dengan membiarkan data keagamaan itu berbicara untuk dirinya sendiri dan tidak diperkenankan memaksa atau mengintervensinya. Seorang ahli sejarah agama dalam mengembangkan dasar penelitian agama, harus memperhatikan istilah “kebenaran”, sehingga metode yang tepat adalah “Fenomenologi”. Caranya dengan menghubungkan masalah “kebenaran” dengan hakekat pengalaman keagamaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar