Rabu, 30 Juli 2014

Gangguan-Gangguan Perkembangan Autis> (Makalah: Psikologi Perkembangan, semester 2, Oleh: Achmad Rifai 11111028)

BAB I
PENDAHULUAN
Sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, kita tahu bahwa nikmat Tuhan yang diberikan kepada makhluknya itu tak ternilai harganya. Banyak di antara nikmat itu, salah satunya yang paling utama adalah nikmat sehat. Sebagaimana manusia diciptakan oleh Tuhan di dunia ini dalam keadaan sehat dan ada kalanya yang sedang merasakan sakit. Di dalam makalah ini akan dibahas suatu penyakit atau gangguan-gangguan kejiwaan yang berupa gangguan-gangguan perkembangan “autis”.
Autis merupakan kelainan perilaku dimana penderita hanya tertarik pada aktivitas mentalnya sendiri (seperti melamun atau berkhayal). Gejala ini umumnya mulai terlihat ketika anak berumur tiga tahun.
Menurut buku Diagnosis and Statistical Manual of Mental Disorders-Fourth Edition (DSM-IV), gangguan autis dapat ditandai dengan tiga gejala utama, yaitu gangguan interaksi sosial, gangguan komunikasi, dan gangguan perilaku. Gangguan perilaku dapat berupa kurangnya interaksi sosial, penghindaran kontak mata, serta kesulitan dalam bahasa.
Gangguan autis pada anak-anak memperlihatkan ketidakmampuan anak tersebut untuk berhubungan dengan orang lain atau bersikap acuh terhadap orang lain yang mencoba berkomunikasi dengannya. Mereka seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri, bermain sendiri, dan tidak mau berkumpul dengan orang lain. Namun, anak autis biasanya memiliki kelebihan atau keahlian tertentu, seperti pintar menggambar, berhitung atau matematika, musik, dan lain-lain.
Penyebab autis sejauh ini belum diketahui dengan pasti, namun diduga kuat berkaitan dengan faktor keturunan, khususnya hubungan antara ibu dan janin selama masa kehamilan.

1
Terapi yang tepat untuk anak autis sangat bersifat individual. Untuk itu dibutuhkan seorang yang ahli dalam terapi autis untuk mengenali dan memberikan apa yang dibutuhkan oleh sang anak agar dapat tumbuh berkembang secara baik. Salah satu terapi yang digunakan adalah dengan meningkatkan kemampuan untuk berbagi (sharing) sehingga dapat mendorong mereka untuk lebih berinteraksi dengan lingkungannya.
Jika terjadi kelainan perilaku pada anak, sebaiknya langsung dikonsultasikan ke dokter. Hal tersebut bertujuan agar dokter secepatnya dapat memberikan tindakan pengobatan atau latihan khusus sejak dini terhadap anak yang mengalami keadaan tersebut.


2
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Autis
        Kata “autis” berasal dari bahasa yunani yaitu “auto” yang berarti sendiri, yang ditujukan pada seseorang yang menunjukkan gejala “hidup dalam dunianya sendiri”. Pada umumnya penderita autisme mengacuhkan suara, penglihatan, maupun kejadian yang melibatkan mereka. Jika ada reaksi, biasanya reaksi ini tidak sesuai dengan situasi, atau masalah tidak ada reaksi sama sekali.
Saat ini, masalah autisme menimbulkan keprihatinan yang mendalam, terutama dari orang tuanya. Selain itu, rasa khawatir timbul pada ibu-ibu muda yang akan melahirkan. Autisme dapat terjadi pada siapa saja. Tidak ada perbedaan status sosial-ekonomi, pendidikan, golongan etnik, atau bangsa. Jumlah kasus yang dilaporkan cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
Menurut Ginanjar (2001), autisme adalah gangguan perkembangan yang kompleks yang disebabkan oleh adanya kerusakan pada otak, sehingga mengakibatkan gangguan pada perkembangan komunikasi, perilaku, kemampuan sosialisasi, sensoris, dan belajar. Biasanya, gejala sudah mulai tampak pada anak berusia di bawah 3 tahun.
Sedangkan menurut Widyawati (1997), gangguan autistik atau autisme juga sering disebut autisme infantil. Gangguan ini merupakan salah satu dari kelompok gangguan perkembangan pervasif yang paling dikenal dan mempunyai ciri khas : Adanya gangguan yang menetap pada interaksi sosial, komunikasi yang menyimpang, dan pola tingkah laku yang terbatas serta stereotip.
Istilah autisme juga dikemukakan oleh Dr Leo Kanner pada 1943. Ada banyak definisi yang diungkapkan para ahli.

3
Chaplin menyebutkan : “Autisme merupakan cara berpikir yang dikendalikan oleh kebutuhan personal atau oleh diri sendiri, menanggapi dunia berdasarkan penglihatan dan harapan sendiri, dan menolak realitas, keasyikan ekstrem dengan pikiran dan fantasi sendiri”.
Pakar lain mengatakan: “Autisme adalah ketidaknormalan perkembangan yang sampai sekarang tidak ada penyembuhannya dan gangguannya tidak hanya mempengaruhi kemampuan anak untuk belajar dan berfungsi di dunia luar tetapi juga kemampuannya untuk mengadakan hubungan dengan anggota keluarganya.”
Jadi yang dimaksud dengan “autis” adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi, dan interaksi sosial.
B.    Tentang Autis
Autisme merupakan suatu kata atau istilah yang mungkin untuk sebagian orang masih merupakan suatu tanda. Namun, untuk sebagian orang yang lainnya, terutama para orang tua yang mempunyai anak penyandang autisme, kata itu sudah tidak asing lagi. Para profesional yang mendalami bidang perkembangan anak telah lama mengadakan penelitian tentang autisme, psikopatologi, cara pencegahan, dan penanggulangannya, serta kelanjutan perkembangan anak dengan autisme di kemudian hari.
Autisme juga merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan jenis gangguan perkembangan pervasif pada anak yang mangakibatkan keterlambatan pada bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi, dan interaksi sosial. Kondisi seperti itu tentu akan sangat mempengaruhi perkembangan anak, baik fisik maupun mental. Apabila tidak dilakukan intervensi secara dini dengan tata laksana yang tepat, perkembangan yang optimal pada anak tersebut sulit diharapkan. Mereka akan semakin terisolir dari dunia luar dan hidup dalam dunianya sendiri dengan berbagai gangguan mental serta perilaku yang semakin mengganggu. Tentu semakin banyak pula dampak negatif yang akan terjadi.

4
1.    Karakteristik Autis
Autisme bisa terdeteksi pada anak berumur paling sedikit 1 tahun. Autisme lebih banyak menyerang anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Gejala Autis Infantil timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada sebagian anak, gejala-gejala itu sudah ada sejak lahir.
Gejala-gejala yang umumnya dilakukan pada anak-anak penderita autis ialah :
Lamban dalam menguasai bahasa sehari-hari.
a.    Hanya bisa mengulang-ulang beberapa kata.
b.    Mata tidak jernih.
d.    Asyik dengan dunianya sendiri.

2.    Penyebab Autisme
Penyebab Autisme sampai sekarang belum dapat ditemukan dengan pasti. Ada pendapat yang mengatakan, bahwa terlalu banyak vaksin Hepatitis B bisa mengakibatkan anak mengidap penyakit autisme. Hal ini dikarenakan vaksin ini mengandung zat pengawet Thimerosal.
Beberapa ahli menyebutkan autis disebabkan multifaktorial. Beberapa peneliti mengungkapkan terdapat gangguan biokimia. Ahli lain berpendapat bahwa autis disebabkan gangguan psikiatri (jiwa). Namun ada pula ahli yang berpendapat bahwa autis disebabkan kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan kerusakan pada usus besar, yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autis. Beberapa teori yang didasarkan oleh beberapa penelitian ilmiah telah dikemukakan untuk mencari penyebab dan proses terjadinya autis.
Perdebatan yang terjadi akhir-akhir ini berkisar pada kemungkinan penyebab autis yang disebabkan oleh vaksinasi anak.

5
Peneliti dari Inggris, Andrew Wakefield, dan Bernard Rimland dari Amerika, mengadakan penelitian mengenai hubungan antara vaksinasi, terutama MMR (Meals, Mumps, Rubella)  dan autisme.
Namun beberapa ahli juga melakukan penelitian dan menyatakan bahwa bibit autis telah ada jauh hari sebelum bayi dilahirkan, bahkan sebelum dilakukan vaksinasi kelainan ini dikonfirmasikan dalam hasil pengamatan beberapa keluarga melalui gen autisme. Patricia Rodier, ahli embrio dari Amerika menyatakan bahwa korelasi antara autis dan cacat lahir yang disebabkan oleh Thalidomide menyimpulkan bahwa kerusakan jaringan otak dapat terjadi paling awal 20 hari pada saat pembentukan janin. Peneliti lainnya, Minshe, menemukan bahwa pada anak yang terkena autis, bagian otak yang mengendalikan pusat memori dan emosi menjadi lebih kecil dibandingkan pada anak normal.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa gangguan perkembangan otak telah terjadi pada semester ketiga saat kehamilan, atau pada saat kelahiran bayi. Karin Nelson, ahli neorology Amerika mengadakan penyelidikan terhadap protein otak dari contoh darah bayi yang baru lahir. Empat sampel protein dari bayi normal mempunyai kadar protein yang kecil, tetapi empat sampel berikutnya mempunyai kadar protein tinggi, yang kemudian ditemukan bahwa bayi dengan kadar protein tinggi ini berkembang menjadi autis dan keterbelakangan mental.
C.    Terapi Autisme
Bila ada pertanyaan mengenai terapi apa yang efektif ? Maka jawaban atas pertanyaan ini sangat kompleks, bahkan para orang tua dari anak-anak dengan autisme pun merasa bingung ketika dihadapkan dengan banyaknya treatment dan proses pendidikan yang ditawarkan bagi anak mereka. Beberapa jenis terapi bersifat tradisional dan telah teruji dari waktu ke waktu, sementara terapi lainnya mungkin baru saja muncul. Tidak seperti gangguan perkembangan lainnya, tidak banyak petunjuk treatment yang telah dipublikasikan apalagi prosedur yang standar dalam menangani autisme.

6
Bagaimanapun juga para ahli sependapat bahwa terapi harus dimulai sejak awal dan harus diarahkan pada hambatan maupun keterlambatan yang secara umum dimiliki oleh setiap anak autis, misalnya; komunikasi dan persoalan-persolan perilaku. Treatment yang komprehensif umumnya meliputi; Terapi Wicara (Speech Therapy), Okupasi Terapi (Occupational Therapy) dan Applied Behavior Analisis (ABA) untuk mengubah serta memodifikasi perilaku.
Selain itu masih banyak terapi yang dapat dilakukan untuk penderita autisme diantaranya, yaitu :
a.    Spesifikasi Diet
b.    Perbaikan Neurotransmitter 
c.    Dukungan Orangtua
d.    Psikoterapi, dll.
Dengan adanya berbagai jenis terapi yang dapat dipilih oleh orang tua, maka sangat penting bagi mereka untuk memilih salah satu jenis terapi yang dapat meningkatkan fungsionalitas anak dan mengurangi gangguan serta hambatan autisme.


7
BAB III
KESIMPULAN
Autisme merupakan istilah nama bagi anak yang mengalami gangguan perkembangan pervasif yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi, dan interaksi sosial. Autisme lebih banyak menyerang anak laki-laki daripada perempuan. Autisme bisa terdeteksi pada anak berumur paling sedikit 1 tahun, namun gejala-gejala autisme timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun yang disebut dengan Gejala Autis Infantil. Tetapi pada sebagian anak, gejala-gejala itu sudah ada sejak lahir.
Gejala-gejala yang umumnya dilakukan pada anak-anak penderita autis, yaitu :    
a. Lamban dalam menguasai bahasa sehari-hari.
b. Hanya bisa mengulang-ulang beberapa kata.
c. Mata tidak jernih.
d. Asyik dengan dunianya sendiri.
Bagi anak yang menderita gangguan autis, terapi sangat diperlukan untuk membantu mengurangi gangguan serta hambatan autisme pada anak dan meningkatkan fungsionalitas anak. Dengan adanya berbagai jenis terapi, maka orang tua harus memilih salah satu terapi yang sesuai dengan kebutuhan anak, berdasarkan pada potensinya, kekurangannya dan tentu saja sesuai dengan minat anak sendiri.


8
DAFTAR PUSTAKA
      Prof.  H.M. Hembing Wijayakusuma, (2004), Psikoterapi untuk Anak Autisma, Jakarta: Pustaka Populer Obor.
       Huzaemah, (2010), Kenali Autisme Sejak Dini, Jakarta: Pustaka Populer Obor.
       Sumber: Info-sehat.com.
       Dari: Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas.
  Ferizal Masra, (2007), Autisme: Gangguan Perkembangan Anak, Jakarta: dwpkbribuenosaires@yahoo.co.id.
    Dr. Widodo Judarwanto, S.pA., (2009), Autis dan Gangguan Sejenisnya, Oleh: Indonesian Children.
       Koeswara, (1991), Teori-Teori Kepribadian, Bandung: PT Eresco.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar