BAB I
PENDAHULUAN
Sebagai umat islam kita pasti tahu bahwa apa pentingnya Akhlaq Tasawuf untuk kehidupan sehari-hari. Tasawuf merupakan salah satu aspek (esoteris) Islam, sebagai perwujudan dari ihsan yang berarti kesadaran adanya komunikasi dan dialog langsung seorang hamba dengan tuhan-Nya. Esensi tasawuf sebenarnya telah ada sejak masa kehidupan rasulullah saw, namun tasawuf sebagai ilmu keislaman adalah hasil kebudayaan islam sebagaimana ilmu-ilmu keislaman lainnya seperti fiqih dan ilmu tauhid. Pada masa rasulullah belum dikenal istilah tasawuf, yang dikenal pada waktu itu hanyalah sebutan sahabat nabi.
Munculnya istilah tasawuf baru dimulai pada pertengahan abad III Hijriyyah oleh abu Hasyimal-Kufi (w. 250 H.) dengan meletakkan al-Sufi dibelakang namanya. Dalam sejarah islam sebelum timbulnya aliran tasawuf, terlebih dahulu muncul aliran zuhud. Aliran zuhud timbul pada akhir abad I dan permulaan abad II Hijriyyah.
Makalah ini akan berusaha memberikan paparan tentang Akhlaq Tasawuf dilihat dari sisi sejarah nabi dan para sahabat.
1
BAB II
PEMBAHASAN
A. TENTANG TASAWUF
Allah SWT berfirman : “dan orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, apabila disapa orang-orang jahil, mereka menjawab dengan salam” (QS 25:63),
(akan diberi pahala berupa tempat yang paling mulia di surga). Nabi bersabda : “Dia yang mendengar suara para sufi (ahl al-tashawuf) dan tidak mengatakan amin bagi do’a mereka, tercatat di hadapan Tuhan dalam daftar orang-orang yang lengah”. Sebagian orang menyatakan bahwa sufi itu disebut demikian karena dia memakai jubah bulu domba (jama’-i shuf), sedangkan yang lain menyatakan dia disebut demikian karena dia berada dalam barisan pertama (shaff-i awwal), yang lain menyatakan demikian karena sufi mengaku sebagai termasuk ke dalam golongan ashhab-i shuffah, yang begitu diridhai Tuhan!, Yang lain menyatakan bahwa nama itu berasal dari shafa (kesucian).
Secara umum, shafa (kesucian) itu terpuji, dan lawannya adalah kadar (ketidaksucian). Rasulullah SAW. Bersabda : “shafw (bagian yang suci, yaitu yang terbaik) dari dunia ini telah lenyap, dan hanya kadar (ketidaksucian)-nya yang tinggal”. Karena itu, kaum pendukung keyakinan ini telah menyucikan akhlaq dan tindakan mereka, dan telah berusaha membebaskan diri mereka dari noda-noda bawa’an, atas dasar itulah mereka disebut sufi.
1. Definisi Tasawuf
Ada tujuh perbedaan Definisi Tasawuf oleh Para ulama’ dan peneliti, tidak ada yg sepakat asal-usul kata tasawuf :
1. Dari kata yg berarti bersih seperti kata Mahmud Amin An-Nawawy Artinya; “Segolongan ahli tasawuf berkata bahwasanya pemberian nama menjadi sufiyah karena kesucian rahasianya dan kebersihan kelakuannya.”
2
2. Istilah sufi adalah nama yang dinisbatkan kepada kata yang bentuk jama`nya berarti shaf atau barisan. Hal ini sesuai dengan keterangan Mahmud Amin An-Nawawy yang mengatakan ” Segolongan berkata; bahwasanya mereka menamakan shufiyah karena mereka berada pada posisi shaf yang terdepan disisi Allah `Azza Wa Jalla dengan ketinggian cita-citanya kepada-Nya dan untuk bertemu dengan-Nya serta hatinya selalu tegak disisi-Nya.”
3. Istilah sufi adalah nama yang dinisbatkan kepada perkataan yang diberikan kepada orang-orang Shufi dimasa Rasulullah SAW karena mereka menempati gubuk-gubuk yang telah dibangun oleh Rasulullah SAW disekitar masjid Madinah. Hal ini sesuai dengan keterangan Abul`Alaa`Afiefy yg mengatakan ” Shufi berkaitan dengan Ahlush Shuffah; yaitu nama yang dikhususkan kepada beberapa Fakir-Muslim pada masa permulaan Islam. Mereka itu termasuk orang-orang yang tidak memiliki rumah. Maka mereka menempati gubuk yang telah dibangun oleh Rasulullah SAW diluar Masjid Madinah”.
Tetapi Mahmud Amin An-Nawawy mengatakan “Segolongan berkata Bahwasanya mereka menamakan dirinya Shufiyah karena sifat-sifatnya mirip dengan sifat-sifat Ahlus Shuffah yang dimasa Rasulullah SAW “.
4. Istilah sufi adalah nama yang dinisbatkan kepada kata yang artinya bulu atau wol. Karena orang-orang Tasawuf pada umumnya mengkhususkan dirinya dengan memakai pakaian yang berasal dari bulu domba. Hal ini dikatakan oleh Qusyairy ” Adapun orang-orang yang mengatakan bahwa berasal dari kata Shuuf adalah dia berpakaian Shuuf jika ia memakai baju bulu; sebagaimana dikatakan dia berpakaian kemeja bila memakai kemeja”.
5. Istilah sufi adalah nama yang dinisbatkan kepada kata yang artinya pilihan . Hal ini dikatakan oleh Yusuf bin Al-Husein “Setiap umat terdapat orang-orang pilihan ; dan mereka adalah titipan Allah yang tersembunyi dari makhluk-Nya Apabila terdapat orang-orang tersebut pada ummat ini maka mereka itulah Shufiyah”.
3
6. Istilah sufi adalah nama yang dinisbatkan kepada keterangan Karena pada umumnya orang-orang tasawuf menonjolkan dirinya dengan menunjukkan sifat-sifatnya yang terpuji. Hal ini diterangkan oleh Mahmud Amin An-Nawawy ” Pernah Asy Syibly ditanya Mengapa orang-orang Shufi dinamakan Shufi ? Ia menjawab Karena padanya terlukis adanya gambaran dan ketetapan sifat ?.
7. Istilah sufi adalah nama yang dinisbatkan kedalam bahasa Yunani; dari kata “Sopos” atau “Sapis” yang dapat diartikan dengan “Ahli Mistik”. Hal ini sesuai dengan keterangan Yoseph Founhamer dan Tholuck yang diterjemahkan oleh Abul `Alaa `Afiefy kedalam bahasa Arab yang artinya ” ?dan sesungguhnya ada dua macam kata bahasa Arab “Shufiyyu” dan “Shaafiyyu” bersumber dari kata asli bahasa Yunani dari kata “Sopos” dan “Sapis”.
Banyak penulis lebih cenderung mengambil pendapat Al-Qusyairy sebagai pendapat yang paling kuat dari seluruh pendapat tersebut dimuka. Karena pada umumnya orang-orang memberikan nama panggilan kepada orang lain berdasarkan kebiasaan lahiriah yang paling menonjol padanya; misalnya pakaiannya. Karena ciri khas yang paling menonjol dan gampang diketahui pada orang Tasawuf adalah pakaian wolnya maka ia dinamakan Shufi .
2. Tasawuf di Mata Para Sufi
Junayd berkata : Al-tashawwuf na’tun uqima al-‘abd fihi qila na’tun li al-‘abd am li al-haqq faqala na’t al-haqq haqiqatun wa-na’t al-‘abd rasmun (Tasawuf adalah suatu sifat yang didalamnya terletak hidupnya manusia). Esensinya adalah sifat Tuhan, dan sistem resminya adalah sifat manusia. Dan Abdul Hasan Nuri mengatakan : Al-tashawwuf tarku kulli hazhzhin li al-nafs (Tasawuf adalah penyangkalan semua kesenangan diri sendiri). Penyangkalan ada dua macam yaitu resmi dan hakiki.
Ibnu Al-Jalla mengatakan : Al-tashawwuf haqiqatun la rasm lahu (Tasawuf adalah hakikat tanpa bentuk), karena bentuk itu milik manusia dalam hubungannya dengan perilaku (mu’amalat) mereka, sementara hakikatnya khusus milik Tuhan. Karena tasawuf adalah keberpalingan dari umat manusia, maka niscaya hal ini tanpa bentuk.
4
Dan Abu ‘Amar Dimasyqi mengatakan : Al-tashawwuf ru’yat al-kawn bi-‘ayn al-naqsh, bal ghadhdh al-tharf ‘an al-kawn (Tasawuf ialah melihat ketidaksempurnaan dunia fenomena [dan ini menunjukkan bahwa atribut-atribut atau sifat-sifat manusia masih maujud], bahkan, menutup mata terhadap dunia fenomena) (dan ini menunjukkan bahwa atribut-atribut atau sifat-sifat manusia terlenyapkan, karena objek-objek penglihatan adalah fenomena, dan apabila fenomena tidak nampak lagi, penglihatan juga sirna). Dan Abu Bakar Syibli mengatakan : Al-tashawwuf syirkun li-‘annahu shiyanat al-qalb ‘an ru’yat al-ghayr wa-la ghayr (Tasawuf adalah syirik karena ia menjaga hati dari pandangan terhadap yang lain, dan yang lain tidaklah ada. Artinya, pandangan terhadap yang lain (selain Tuhan).
Hushri mengatakan : Al-tashawwuf shafa al-sirr min kudurat al-mukhalafat (Tasawuf adalah kesucian hati dari pencemaran ketidakselarasan). Muhammad bin Al-Husayn bin ‘Ali bin Abi Thalib-semoga Allah meridhai mereka semua-mengatakan : Al-tashawwuf khulqun fa-man zada ‘alayka fi al-khulq zada ‘alayka fi al-thasawwuf (Tasawuf adalah kebaikan budi pekerti : ia yang mempunyai budi pekerti yang lebih baik, adalah sufi yang lebih baik).
‘Ali bin Bundar Al-Shayrafi dari Nisyapur berkata : Al-tashawwuf isqath al-ru’yat li-‘l-haqq zhahiran wa-batinan (Tasawuf adalah begini, bahwa sufi tidak boleh memandang lahiriah dan batiniahnya sendiri, melainkan harus memandang semuanya sebagai milik Tuhan).
Muhammad bin Ahmad Al-Muqri mengatakan : Al-tashawwuf istiqamat al-ahwal ma’a al-haqq (Tasawuf adalah mempertahankan keadaan-keadaan yang benar bersama Tuhan).
5
Abu Hafs Haddad dari Nisyapur berkata : Al-tashawwuf kulluhu adabun li-kulli waqtin adabun wa-li-kulli maqamin adabun wa-li-kulli halin adabun fa-man lazima adab al-awqat balagha mablagh al-rijal fa-man dhayya’a al-adab fa-huwa ba’idun min haytsu yazunnu al-qabul (Tasawuf sepenuhnya berupa tingkah laku; setiap waktu, tempat, dan keadaan lingkungan mempunyai adat kebiasaannya masing-masing; maka dia yang menyesuaikan diri dengan adat-adat kebiasaan pada setiap kesempatan, mencapai tingkat orang-orang suci; dan dia tidak mengindahkan adat-adat kebiasaan itu, maka dia akan jauh tersingkir dari pikiran tentang kedekatan (dengan Tuhan) dan tidak membayangkan bahwa dia bisa diterima Tuhan). Makna ini berkaitan erat dengan pernyataan Abul Hasan Nuri : Laysa al-tashawwuf rusuman wa-la ‘uluman wa-la kinnahu akhlaqun (Tasawuf tidak terdiri atas praktik-praktik dan ilmu-ilmu, tapi ia adalah moral [akhlaq]).
Murta’isy mengatakan : Al-tashawwuf husn al-khulq (Tasawuf adalah watak yang baik). Hal ini ada tiga macam : pertama, kepada Tuhan yaitu dengan memenuhi segala
perintah-Nya tanpa kemunafikan; kedua, kepada manusia yaitu dengan menghormati yang lebih tua, menghargai sesama, dan menyayangi yang lebih kecil; dan ketiga, kepada diri sendiri yaitu dengan tidak menuruti hawa nafsu dan setan. Dan Abu ‘Ali Qarmini mengatakan : Al-tashawwuf huwa al-akhlaq al-radhiyyat (Tasawuf adalah moral yang baik). Abu Hasan Nuri juga mengatakan : Al-tashawwuf huwa al-hurriyat wa al-futuwwat wa-tark al-taklif wa al-sakha wa-badzl al-dunya (Tasawuf adalah kemerdekaan, sehingga manusia terbebaskan dari ikatan-ikatan hawa nafsu dan kemurahan hati).
Abul Hasan Fusyanja-semoga Tuhan meridhainya-mengatakan : Al-tashawwuf al-yawma’smun wa-la haqiqatun wa-qad kana haqiqatan wa-la’sman (Pada masa ini tasawuf adalah sebuah nama tanpa hakikat, tapi semula ia suatu hakikat tanpa nama), yaitu pada masa sahabat-sahabat Nabi Saw.
6
B. PERMULAAN MUNCULNYA AKHLAQ TASAWUF
Para ulama’ berbeda pendapat tentang awal kemunculan kata tasawuf. Taimiyah dan sebelum itu Ibnu Al-Jauzi dan ibu khaldun menyebutkan bahwa, kata sufi tidak dikenal di tiga abad hijriyah, namun pembicaraan tentang tasawuf dikenal setelah itu.
As-Siraj Ath-Thusi berkata di bab khusus yang ia buat untuk mengomentari pendapat yang menyatakan : “Kami tidak mendengar penyebutan orang-orang sufi pada zaman dulu dan kata tersebut adalah kata baru” kata As-Siraj. Jika penanya bertanya dengan berkata bahwa kami tidak mendengar penyebutan orang-orang sufi di kalangan sahabat-sahabat Nabi Saw atau generasi sesudah mereka, kami hanya mengenal istilah orang-orang ahli ibadah, orang-orang zuhud, para pengembara, para orang miskin. Selain itu tidak pernah dikatakan kepada seorang sahabat bahwa ia orang sufi.
Hal yang sama dikatakan As-Sahruradi. Kata Tasawuf tidak dikenal pada zaman Rasulullah, ada lagi yang mengatakan bahwa kata tasawuf (sufi) tidak dikenal hingga tahun 200 Hijriyah.
Abdurrahman Al-Jami menegaskan : Abu Hasyim Al-Kufi adalah orang yang pertama kali dipanggil dengan nama sufi dan sebelumnya, tidak ada seorangpun yang diberi nama dengan nama tersebut, khaniqah yang pertama kali ialah khaniqah di Ramlah, Syam.
Adapun Al-Hujuwiri, ia menyebutkan kata Tasawuf sudah ada pada zaman Rasulullah dan dengan kata yang sama ia berhujjah dengan hadits palsu yang diatasnamakan kepada Rasulullah. Katanya beliau bersabda, “Barang siapa mendengar suara orang-orang sufi, namun tidak mengamankan do’a mereka, ia ditulis disisi Allah sebagai orang yang lalai.
Padahal Al-Hujuwiri sendiri menulis di akhir bab yang sama ketika menjelaskan perkataan Abui Al-Hasan Al-Busynaji, “Tasawuf pada hari ini adalah nama tanpa hakikat, dan sebelum itu adalah hakikat tanpa nama”.
7
Maksudnya, nama Tasawuf tidak ada pada zaman sahabat dan generasi salaf, sedang maknanya ada pada setiap orang dari mereka, sedang sekarang namanya ada, namun maknanya tidak ada.
Adapun para orientalis yang menulis tasawuf seperti Nichelson. Ia berpendapat bahwa kata Tasawuf pertama kali diberikan kepada Abu Hasyim Al-Kufi (meninggal pada tahun 150 H).
Adapun bentuk jamak kata sufi, yaitu shufiyah (orang-orang sufi), yang muncul pada tahun 189 H/814 M di Iskandariyah, maka itu menunjukkan sedekatnya periode ketika itu dengan salah satu aliran Tasawuf islam yang nyaris merupakan aliran Syiah dan muncul di kufah. Abda’ adalah imam terakhir Tasawuf dan termasuk orang yang berpendapat imamah itu bisa dimiliki dengan pewarisan dan pnunjukan. Abda’ tidak makan daging dan meninggal dunia di Baghdad kira-kira pada tahun 210 H, jadi penggunaan kata sufi terbatas di kufah.
Adapun Abu Nu’Aim Al-Ashbahani yang kemudian menyusun bukunya Al-Hilyah untuk orang-orang sufi. Dalam batasan-batasan tasawuf ia menyebutkan banyak hal mungkar dan buruk, ia tidak malu untuk mengatakan bahwa Nabi Muhammad, Abu Bakar, Umar, Usman, Ali dan sahabat-sahabat terkemuka adalah orang-orang sufi, karena berargumen mereka orang-orang yang zuhud.
C. SEJARAH MUNCULNYA AKHLAQ TASAWUF MASA NABI DAN PARA SAHABAT
Sejarah Tasawuf dimulai imam Ja’far Al-Shadiq ibnu Muhamad Bagir ibnu Ali Zaenal Abidin ibnu Husain ibnu Ali bin Abi Thalib. Imam Ja’far juga dianggap sebagai guru dari keempat imam Ahlulsunnah, yaitu Imam Abu Hanifah, Maliki, Syafi’i, dan ibnu Hambali.
Ucapan-ucapan Imam Ja’far banyak disebutkan oleh para sufi seperti Fudhail ibnu Iyadh Dzun Nun Al-Mishri, Jabir ibnu Hayyan, dan Al-Hallaj. Di antara imam mazhab di kalangan Ahlulsunnah, Imam Maliki yang paling banyak meriwayatkan hadits Imam Ja’far.
8
Kaitan Imam Ja’far dengan tasawuf terlihat silsilah tariqah, seperti Naqsyabandiyah yang berujung pada sayyidina Abu Bakar As-Syiddiq ataupun yang berujung pada Imam Ali selalu melewati Imam Ja’far. Kakek buyut Imam Ja’far dikenal mempunyai sifat dan sikap sebagai sufi. Bahkan (mesti sulit untuk dibenarkan) beberapa ahli menyebutkan Hasan Ali Bashri, sufi-zahid pertama sebagai murid Imam Ali. Sedangkan Ali Zaenal Abidin (ayah Imam Ja’far) dikenal dengan ungkapan-ungkapan cintanya kepada Allah yang tercermin pada do’anya yang berjudul “As-Shahifah As-Sajadiyyah”.
Tasawuf lahir dan sebagai suatu yang disiplin ilmu sejak abad ke-2 H. Lewat pribadi Hasan Al-Bashri, Sufyan As-Tsauri, Al-Harits ibnu As’ad Al-Muhasibi, Yazid Busthami. Tasawuf tidak pernah bebas dari kritikan para ulama’ ahli fiqih, Hadits, dll.
Praktik-praktik Tasawuf dimulai dari pusat kelahiran dan penyiaran agama islam, yaitu Makkah dan Madinah.
Lahirnya Tasawuf di dorong oleh beberapa faktor berikut :
1. Reaksi atas kecenderungan hidup hedonis (kesenangan) yang mengumbar syahwat.
2. Perkembangan teologi yang mengedepankan rasio dan kering dari aspek moral spiritual.
3. Katalisator yang sejak dari realitas umat yang secara politis maupun teologis didominasi oleh nalar kekerasan.
Menurut Hamka, kehidupan sufistik sebenarnya lahir bersama dengan lahirnya islam itu sendiri. Sebab, ia tumbuh dan berkembang dari pribadi Nabi Muhammad Saw. Tasawuf islam sebagaimana terlihat melalui praktik kehidupan Nabi dan para sahabatnya itu sebenarnya sangatlah dinamis. Hanya saja sebagian ulama’ belakangan justru membawa praktik kehidupan sufistik ini menjauh dari kehidupan dunia dan masyarakat. Tasawuf kemudian tak jarang dijadikan sebagai pelarian dari tanggung jawab sosial dengan alasan tidak ingin terlibat dalam fitrah yang terjadi di tengah-tengah umat.
9
Ibnu Al-Jauzi dan Ibnu Khaldun secara garis besar kehidupan kerohanian dalam islam terbagi menjadi dua, yakni Zuhud dan Tasawuf. Hanya saja diakui bahwa keduanya merupakan istilah baru, sebab keduanya belum ada pada masa Nabi Muhammad Saw. Dan tidak terdapat dalam Al-Qur’an kecuali zuhud yang disebut sekali dalam surat yusuf ayat 20.
Ketika islam berkembang dan banyak orang yang memeluk islam, dan terjadi perkembangan strata sosial, maka muncul istilah baru di kalangan sahabat, yakni Qurra’ (ahli membaca Al-Qur’an), ahli Al-Shuffah dan fuqara’.
Sebagaimana telah di ketahui, bahwa sejarah islam telah ditandai dengan peristiwa tragis, yakni pembunuhan terhadap diri khalifah ketiga (Utsman bin Affan Ra). Dari peristiwa itu secara berantai terjadi kekacauan dan kerusakan akhlaq. Hal ini menyebabkan sahabat-sahabat yang masih ada, dan pemuka-pemuka islam yang mau berfikir, berikhtiar membangkitkan kembali ajaran islam, kembali ke masjid/i’tikaf, kembali mendengarkan kisah-kisah mengenai targhib dan tarhib, mengenai keindahan hidup zuhud dan sebagainya. Ini benih Tasawuf yang paling awal.
10
BAB III
KESIMPULAN
Dari pembahasan yang sebelumnya dapat di ambil kesimpulan, bahwa ada tujuh para ulama’ dan peneliti yang mendefinisikan tentang Tasawuf, namun ada satu pendapat yang paling kuat adalah pendapatnya Al-Qusyairy. Karena pada umumnya orang-orang memberikan nama panggilan kepada orang lain berdasarkan kebiasaan lahiriah yang paling menonjol padanya; misalnya pakaiannya. Karena ciri khas yang paling menonjol dan mudah diketahui pada orang Tasawuf adalah pakaian wolnya maka ia dinamakan Shufi .
Banyak ulama’ yang berbeda pendapat tentang permulaan munculnya Tasawuf. Sejarah Tasawuf dimulai imam Ja’far Al-Shadiq ibnu Muhamad Bagir ibnu Ali Zaenal Abidin ibnu Husain ibnu Ali bin Abi Thalib. Imam Ja’far juga dianggap sebagai guru dari keempat imam Ahlulsunnah, yaitu Imam Abu Hanifah, Maliki, Syafi’i, dan ibnu Hambali. Namun, benih tasawuf yang paling awal yaitu Sebagaimana telah di ketahui, bahwa sejarah islam telah ditandai dengan peristiwa tragis, yakni pembunuhan terhadap diri khalifah ketiga (Utsman bin Affan Ra). Dari peristiwa itu secara berantai terjadi kekacauan dan kerusakan akhlaq. Hal ini menyebabkan sahabat-sahabat yang masih ada, dan pemuka-pemuka islam yang mau berfikir, berikhtiar membangkitkan kembali ajaran islam, kembali ke masjid/i’tikaf, kembali mendengarkan kisah-kisah mengenai targhib dan tarhib, mengenai keindahan hidup zuhud dan sebagainya.
Sebenarnya Tasawuf pada zaman Nabi sudah mulai tumbuh, akan tetapi belum dinamakan ajaran Tasawuf. Perilaku, sifat, dan kesederhanaan Nabi adalah termasuk Akhlaq Tasawuf. Esensi Tasawuf sebenarnya telah ada sejak Rasulullah Saw, namun Tasawuf sebagai ilmu keislaman yaitu hasil kebudayaan islam sebagaimana ilmu-ilmu keislaman lainnya seperti Fiqih dan Ilmu Tauhid. Pada masa Rasulullah Saw belum dikenal istilah Tasawuf, namun lebih tepatnya mengarah ke Zuhud.
11
DAFTAR PUSTAKA
• Utsman al-hujwiri,Ali ibn,Khasful al- mahjub,new delhi:tas company,1982
• Taimiyah,ibn,al-shuffiyah wa al-fuqoro’,kairo,Mathba’ah al-manar,1348
• Oleh Al-islam-pusat informasi dan komunikasi Islam Indonesia, sumber file al_islam.chm
• Abu Bakar, pengantar sejarah sufi dan tasawuf, Solo:Ramadhani, 1984
12
PENDAHULUAN
Sebagai umat islam kita pasti tahu bahwa apa pentingnya Akhlaq Tasawuf untuk kehidupan sehari-hari. Tasawuf merupakan salah satu aspek (esoteris) Islam, sebagai perwujudan dari ihsan yang berarti kesadaran adanya komunikasi dan dialog langsung seorang hamba dengan tuhan-Nya. Esensi tasawuf sebenarnya telah ada sejak masa kehidupan rasulullah saw, namun tasawuf sebagai ilmu keislaman adalah hasil kebudayaan islam sebagaimana ilmu-ilmu keislaman lainnya seperti fiqih dan ilmu tauhid. Pada masa rasulullah belum dikenal istilah tasawuf, yang dikenal pada waktu itu hanyalah sebutan sahabat nabi.
Munculnya istilah tasawuf baru dimulai pada pertengahan abad III Hijriyyah oleh abu Hasyimal-Kufi (w. 250 H.) dengan meletakkan al-Sufi dibelakang namanya. Dalam sejarah islam sebelum timbulnya aliran tasawuf, terlebih dahulu muncul aliran zuhud. Aliran zuhud timbul pada akhir abad I dan permulaan abad II Hijriyyah.
Makalah ini akan berusaha memberikan paparan tentang Akhlaq Tasawuf dilihat dari sisi sejarah nabi dan para sahabat.
1
BAB II
PEMBAHASAN
A. TENTANG TASAWUF
Allah SWT berfirman : “dan orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, apabila disapa orang-orang jahil, mereka menjawab dengan salam” (QS 25:63),
(akan diberi pahala berupa tempat yang paling mulia di surga). Nabi bersabda : “Dia yang mendengar suara para sufi (ahl al-tashawuf) dan tidak mengatakan amin bagi do’a mereka, tercatat di hadapan Tuhan dalam daftar orang-orang yang lengah”. Sebagian orang menyatakan bahwa sufi itu disebut demikian karena dia memakai jubah bulu domba (jama’-i shuf), sedangkan yang lain menyatakan dia disebut demikian karena dia berada dalam barisan pertama (shaff-i awwal), yang lain menyatakan demikian karena sufi mengaku sebagai termasuk ke dalam golongan ashhab-i shuffah, yang begitu diridhai Tuhan!, Yang lain menyatakan bahwa nama itu berasal dari shafa (kesucian).
Secara umum, shafa (kesucian) itu terpuji, dan lawannya adalah kadar (ketidaksucian). Rasulullah SAW. Bersabda : “shafw (bagian yang suci, yaitu yang terbaik) dari dunia ini telah lenyap, dan hanya kadar (ketidaksucian)-nya yang tinggal”. Karena itu, kaum pendukung keyakinan ini telah menyucikan akhlaq dan tindakan mereka, dan telah berusaha membebaskan diri mereka dari noda-noda bawa’an, atas dasar itulah mereka disebut sufi.
1. Definisi Tasawuf
Ada tujuh perbedaan Definisi Tasawuf oleh Para ulama’ dan peneliti, tidak ada yg sepakat asal-usul kata tasawuf :
1. Dari kata yg berarti bersih seperti kata Mahmud Amin An-Nawawy Artinya; “Segolongan ahli tasawuf berkata bahwasanya pemberian nama menjadi sufiyah karena kesucian rahasianya dan kebersihan kelakuannya.”
2
2. Istilah sufi adalah nama yang dinisbatkan kepada kata yang bentuk jama`nya berarti shaf atau barisan. Hal ini sesuai dengan keterangan Mahmud Amin An-Nawawy yang mengatakan ” Segolongan berkata; bahwasanya mereka menamakan shufiyah karena mereka berada pada posisi shaf yang terdepan disisi Allah `Azza Wa Jalla dengan ketinggian cita-citanya kepada-Nya dan untuk bertemu dengan-Nya serta hatinya selalu tegak disisi-Nya.”
3. Istilah sufi adalah nama yang dinisbatkan kepada perkataan yang diberikan kepada orang-orang Shufi dimasa Rasulullah SAW karena mereka menempati gubuk-gubuk yang telah dibangun oleh Rasulullah SAW disekitar masjid Madinah. Hal ini sesuai dengan keterangan Abul`Alaa`Afiefy yg mengatakan ” Shufi berkaitan dengan Ahlush Shuffah; yaitu nama yang dikhususkan kepada beberapa Fakir-Muslim pada masa permulaan Islam. Mereka itu termasuk orang-orang yang tidak memiliki rumah. Maka mereka menempati gubuk yang telah dibangun oleh Rasulullah SAW diluar Masjid Madinah”.
Tetapi Mahmud Amin An-Nawawy mengatakan “Segolongan berkata Bahwasanya mereka menamakan dirinya Shufiyah karena sifat-sifatnya mirip dengan sifat-sifat Ahlus Shuffah yang dimasa Rasulullah SAW “.
4. Istilah sufi adalah nama yang dinisbatkan kepada kata yang artinya bulu atau wol. Karena orang-orang Tasawuf pada umumnya mengkhususkan dirinya dengan memakai pakaian yang berasal dari bulu domba. Hal ini dikatakan oleh Qusyairy ” Adapun orang-orang yang mengatakan bahwa berasal dari kata Shuuf adalah dia berpakaian Shuuf jika ia memakai baju bulu; sebagaimana dikatakan dia berpakaian kemeja bila memakai kemeja”.
5. Istilah sufi adalah nama yang dinisbatkan kepada kata yang artinya pilihan . Hal ini dikatakan oleh Yusuf bin Al-Husein “Setiap umat terdapat orang-orang pilihan ; dan mereka adalah titipan Allah yang tersembunyi dari makhluk-Nya Apabila terdapat orang-orang tersebut pada ummat ini maka mereka itulah Shufiyah”.
3
6. Istilah sufi adalah nama yang dinisbatkan kepada keterangan Karena pada umumnya orang-orang tasawuf menonjolkan dirinya dengan menunjukkan sifat-sifatnya yang terpuji. Hal ini diterangkan oleh Mahmud Amin An-Nawawy ” Pernah Asy Syibly ditanya Mengapa orang-orang Shufi dinamakan Shufi ? Ia menjawab Karena padanya terlukis adanya gambaran dan ketetapan sifat ?.
7. Istilah sufi adalah nama yang dinisbatkan kedalam bahasa Yunani; dari kata “Sopos” atau “Sapis” yang dapat diartikan dengan “Ahli Mistik”. Hal ini sesuai dengan keterangan Yoseph Founhamer dan Tholuck yang diterjemahkan oleh Abul `Alaa `Afiefy kedalam bahasa Arab yang artinya ” ?dan sesungguhnya ada dua macam kata bahasa Arab “Shufiyyu” dan “Shaafiyyu” bersumber dari kata asli bahasa Yunani dari kata “Sopos” dan “Sapis”.
Banyak penulis lebih cenderung mengambil pendapat Al-Qusyairy sebagai pendapat yang paling kuat dari seluruh pendapat tersebut dimuka. Karena pada umumnya orang-orang memberikan nama panggilan kepada orang lain berdasarkan kebiasaan lahiriah yang paling menonjol padanya; misalnya pakaiannya. Karena ciri khas yang paling menonjol dan gampang diketahui pada orang Tasawuf adalah pakaian wolnya maka ia dinamakan Shufi .
2. Tasawuf di Mata Para Sufi
Junayd berkata : Al-tashawwuf na’tun uqima al-‘abd fihi qila na’tun li al-‘abd am li al-haqq faqala na’t al-haqq haqiqatun wa-na’t al-‘abd rasmun (Tasawuf adalah suatu sifat yang didalamnya terletak hidupnya manusia). Esensinya adalah sifat Tuhan, dan sistem resminya adalah sifat manusia. Dan Abdul Hasan Nuri mengatakan : Al-tashawwuf tarku kulli hazhzhin li al-nafs (Tasawuf adalah penyangkalan semua kesenangan diri sendiri). Penyangkalan ada dua macam yaitu resmi dan hakiki.
Ibnu Al-Jalla mengatakan : Al-tashawwuf haqiqatun la rasm lahu (Tasawuf adalah hakikat tanpa bentuk), karena bentuk itu milik manusia dalam hubungannya dengan perilaku (mu’amalat) mereka, sementara hakikatnya khusus milik Tuhan. Karena tasawuf adalah keberpalingan dari umat manusia, maka niscaya hal ini tanpa bentuk.
4
Dan Abu ‘Amar Dimasyqi mengatakan : Al-tashawwuf ru’yat al-kawn bi-‘ayn al-naqsh, bal ghadhdh al-tharf ‘an al-kawn (Tasawuf ialah melihat ketidaksempurnaan dunia fenomena [dan ini menunjukkan bahwa atribut-atribut atau sifat-sifat manusia masih maujud], bahkan, menutup mata terhadap dunia fenomena) (dan ini menunjukkan bahwa atribut-atribut atau sifat-sifat manusia terlenyapkan, karena objek-objek penglihatan adalah fenomena, dan apabila fenomena tidak nampak lagi, penglihatan juga sirna). Dan Abu Bakar Syibli mengatakan : Al-tashawwuf syirkun li-‘annahu shiyanat al-qalb ‘an ru’yat al-ghayr wa-la ghayr (Tasawuf adalah syirik karena ia menjaga hati dari pandangan terhadap yang lain, dan yang lain tidaklah ada. Artinya, pandangan terhadap yang lain (selain Tuhan).
Hushri mengatakan : Al-tashawwuf shafa al-sirr min kudurat al-mukhalafat (Tasawuf adalah kesucian hati dari pencemaran ketidakselarasan). Muhammad bin Al-Husayn bin ‘Ali bin Abi Thalib-semoga Allah meridhai mereka semua-mengatakan : Al-tashawwuf khulqun fa-man zada ‘alayka fi al-khulq zada ‘alayka fi al-thasawwuf (Tasawuf adalah kebaikan budi pekerti : ia yang mempunyai budi pekerti yang lebih baik, adalah sufi yang lebih baik).
‘Ali bin Bundar Al-Shayrafi dari Nisyapur berkata : Al-tashawwuf isqath al-ru’yat li-‘l-haqq zhahiran wa-batinan (Tasawuf adalah begini, bahwa sufi tidak boleh memandang lahiriah dan batiniahnya sendiri, melainkan harus memandang semuanya sebagai milik Tuhan).
Muhammad bin Ahmad Al-Muqri mengatakan : Al-tashawwuf istiqamat al-ahwal ma’a al-haqq (Tasawuf adalah mempertahankan keadaan-keadaan yang benar bersama Tuhan).
5
Abu Hafs Haddad dari Nisyapur berkata : Al-tashawwuf kulluhu adabun li-kulli waqtin adabun wa-li-kulli maqamin adabun wa-li-kulli halin adabun fa-man lazima adab al-awqat balagha mablagh al-rijal fa-man dhayya’a al-adab fa-huwa ba’idun min haytsu yazunnu al-qabul (Tasawuf sepenuhnya berupa tingkah laku; setiap waktu, tempat, dan keadaan lingkungan mempunyai adat kebiasaannya masing-masing; maka dia yang menyesuaikan diri dengan adat-adat kebiasaan pada setiap kesempatan, mencapai tingkat orang-orang suci; dan dia tidak mengindahkan adat-adat kebiasaan itu, maka dia akan jauh tersingkir dari pikiran tentang kedekatan (dengan Tuhan) dan tidak membayangkan bahwa dia bisa diterima Tuhan). Makna ini berkaitan erat dengan pernyataan Abul Hasan Nuri : Laysa al-tashawwuf rusuman wa-la ‘uluman wa-la kinnahu akhlaqun (Tasawuf tidak terdiri atas praktik-praktik dan ilmu-ilmu, tapi ia adalah moral [akhlaq]).
Murta’isy mengatakan : Al-tashawwuf husn al-khulq (Tasawuf adalah watak yang baik). Hal ini ada tiga macam : pertama, kepada Tuhan yaitu dengan memenuhi segala
perintah-Nya tanpa kemunafikan; kedua, kepada manusia yaitu dengan menghormati yang lebih tua, menghargai sesama, dan menyayangi yang lebih kecil; dan ketiga, kepada diri sendiri yaitu dengan tidak menuruti hawa nafsu dan setan. Dan Abu ‘Ali Qarmini mengatakan : Al-tashawwuf huwa al-akhlaq al-radhiyyat (Tasawuf adalah moral yang baik). Abu Hasan Nuri juga mengatakan : Al-tashawwuf huwa al-hurriyat wa al-futuwwat wa-tark al-taklif wa al-sakha wa-badzl al-dunya (Tasawuf adalah kemerdekaan, sehingga manusia terbebaskan dari ikatan-ikatan hawa nafsu dan kemurahan hati).
Abul Hasan Fusyanja-semoga Tuhan meridhainya-mengatakan : Al-tashawwuf al-yawma’smun wa-la haqiqatun wa-qad kana haqiqatan wa-la’sman (Pada masa ini tasawuf adalah sebuah nama tanpa hakikat, tapi semula ia suatu hakikat tanpa nama), yaitu pada masa sahabat-sahabat Nabi Saw.
6
B. PERMULAAN MUNCULNYA AKHLAQ TASAWUF
Para ulama’ berbeda pendapat tentang awal kemunculan kata tasawuf. Taimiyah dan sebelum itu Ibnu Al-Jauzi dan ibu khaldun menyebutkan bahwa, kata sufi tidak dikenal di tiga abad hijriyah, namun pembicaraan tentang tasawuf dikenal setelah itu.
As-Siraj Ath-Thusi berkata di bab khusus yang ia buat untuk mengomentari pendapat yang menyatakan : “Kami tidak mendengar penyebutan orang-orang sufi pada zaman dulu dan kata tersebut adalah kata baru” kata As-Siraj. Jika penanya bertanya dengan berkata bahwa kami tidak mendengar penyebutan orang-orang sufi di kalangan sahabat-sahabat Nabi Saw atau generasi sesudah mereka, kami hanya mengenal istilah orang-orang ahli ibadah, orang-orang zuhud, para pengembara, para orang miskin. Selain itu tidak pernah dikatakan kepada seorang sahabat bahwa ia orang sufi.
Hal yang sama dikatakan As-Sahruradi. Kata Tasawuf tidak dikenal pada zaman Rasulullah, ada lagi yang mengatakan bahwa kata tasawuf (sufi) tidak dikenal hingga tahun 200 Hijriyah.
Abdurrahman Al-Jami menegaskan : Abu Hasyim Al-Kufi adalah orang yang pertama kali dipanggil dengan nama sufi dan sebelumnya, tidak ada seorangpun yang diberi nama dengan nama tersebut, khaniqah yang pertama kali ialah khaniqah di Ramlah, Syam.
Adapun Al-Hujuwiri, ia menyebutkan kata Tasawuf sudah ada pada zaman Rasulullah dan dengan kata yang sama ia berhujjah dengan hadits palsu yang diatasnamakan kepada Rasulullah. Katanya beliau bersabda, “Barang siapa mendengar suara orang-orang sufi, namun tidak mengamankan do’a mereka, ia ditulis disisi Allah sebagai orang yang lalai.
Padahal Al-Hujuwiri sendiri menulis di akhir bab yang sama ketika menjelaskan perkataan Abui Al-Hasan Al-Busynaji, “Tasawuf pada hari ini adalah nama tanpa hakikat, dan sebelum itu adalah hakikat tanpa nama”.
7
Maksudnya, nama Tasawuf tidak ada pada zaman sahabat dan generasi salaf, sedang maknanya ada pada setiap orang dari mereka, sedang sekarang namanya ada, namun maknanya tidak ada.
Adapun para orientalis yang menulis tasawuf seperti Nichelson. Ia berpendapat bahwa kata Tasawuf pertama kali diberikan kepada Abu Hasyim Al-Kufi (meninggal pada tahun 150 H).
Adapun bentuk jamak kata sufi, yaitu shufiyah (orang-orang sufi), yang muncul pada tahun 189 H/814 M di Iskandariyah, maka itu menunjukkan sedekatnya periode ketika itu dengan salah satu aliran Tasawuf islam yang nyaris merupakan aliran Syiah dan muncul di kufah. Abda’ adalah imam terakhir Tasawuf dan termasuk orang yang berpendapat imamah itu bisa dimiliki dengan pewarisan dan pnunjukan. Abda’ tidak makan daging dan meninggal dunia di Baghdad kira-kira pada tahun 210 H, jadi penggunaan kata sufi terbatas di kufah.
Adapun Abu Nu’Aim Al-Ashbahani yang kemudian menyusun bukunya Al-Hilyah untuk orang-orang sufi. Dalam batasan-batasan tasawuf ia menyebutkan banyak hal mungkar dan buruk, ia tidak malu untuk mengatakan bahwa Nabi Muhammad, Abu Bakar, Umar, Usman, Ali dan sahabat-sahabat terkemuka adalah orang-orang sufi, karena berargumen mereka orang-orang yang zuhud.
C. SEJARAH MUNCULNYA AKHLAQ TASAWUF MASA NABI DAN PARA SAHABAT
Sejarah Tasawuf dimulai imam Ja’far Al-Shadiq ibnu Muhamad Bagir ibnu Ali Zaenal Abidin ibnu Husain ibnu Ali bin Abi Thalib. Imam Ja’far juga dianggap sebagai guru dari keempat imam Ahlulsunnah, yaitu Imam Abu Hanifah, Maliki, Syafi’i, dan ibnu Hambali.
Ucapan-ucapan Imam Ja’far banyak disebutkan oleh para sufi seperti Fudhail ibnu Iyadh Dzun Nun Al-Mishri, Jabir ibnu Hayyan, dan Al-Hallaj. Di antara imam mazhab di kalangan Ahlulsunnah, Imam Maliki yang paling banyak meriwayatkan hadits Imam Ja’far.
8
Kaitan Imam Ja’far dengan tasawuf terlihat silsilah tariqah, seperti Naqsyabandiyah yang berujung pada sayyidina Abu Bakar As-Syiddiq ataupun yang berujung pada Imam Ali selalu melewati Imam Ja’far. Kakek buyut Imam Ja’far dikenal mempunyai sifat dan sikap sebagai sufi. Bahkan (mesti sulit untuk dibenarkan) beberapa ahli menyebutkan Hasan Ali Bashri, sufi-zahid pertama sebagai murid Imam Ali. Sedangkan Ali Zaenal Abidin (ayah Imam Ja’far) dikenal dengan ungkapan-ungkapan cintanya kepada Allah yang tercermin pada do’anya yang berjudul “As-Shahifah As-Sajadiyyah”.
Tasawuf lahir dan sebagai suatu yang disiplin ilmu sejak abad ke-2 H. Lewat pribadi Hasan Al-Bashri, Sufyan As-Tsauri, Al-Harits ibnu As’ad Al-Muhasibi, Yazid Busthami. Tasawuf tidak pernah bebas dari kritikan para ulama’ ahli fiqih, Hadits, dll.
Praktik-praktik Tasawuf dimulai dari pusat kelahiran dan penyiaran agama islam, yaitu Makkah dan Madinah.
Lahirnya Tasawuf di dorong oleh beberapa faktor berikut :
1. Reaksi atas kecenderungan hidup hedonis (kesenangan) yang mengumbar syahwat.
2. Perkembangan teologi yang mengedepankan rasio dan kering dari aspek moral spiritual.
3. Katalisator yang sejak dari realitas umat yang secara politis maupun teologis didominasi oleh nalar kekerasan.
Menurut Hamka, kehidupan sufistik sebenarnya lahir bersama dengan lahirnya islam itu sendiri. Sebab, ia tumbuh dan berkembang dari pribadi Nabi Muhammad Saw. Tasawuf islam sebagaimana terlihat melalui praktik kehidupan Nabi dan para sahabatnya itu sebenarnya sangatlah dinamis. Hanya saja sebagian ulama’ belakangan justru membawa praktik kehidupan sufistik ini menjauh dari kehidupan dunia dan masyarakat. Tasawuf kemudian tak jarang dijadikan sebagai pelarian dari tanggung jawab sosial dengan alasan tidak ingin terlibat dalam fitrah yang terjadi di tengah-tengah umat.
9
Ibnu Al-Jauzi dan Ibnu Khaldun secara garis besar kehidupan kerohanian dalam islam terbagi menjadi dua, yakni Zuhud dan Tasawuf. Hanya saja diakui bahwa keduanya merupakan istilah baru, sebab keduanya belum ada pada masa Nabi Muhammad Saw. Dan tidak terdapat dalam Al-Qur’an kecuali zuhud yang disebut sekali dalam surat yusuf ayat 20.
Ketika islam berkembang dan banyak orang yang memeluk islam, dan terjadi perkembangan strata sosial, maka muncul istilah baru di kalangan sahabat, yakni Qurra’ (ahli membaca Al-Qur’an), ahli Al-Shuffah dan fuqara’.
Sebagaimana telah di ketahui, bahwa sejarah islam telah ditandai dengan peristiwa tragis, yakni pembunuhan terhadap diri khalifah ketiga (Utsman bin Affan Ra). Dari peristiwa itu secara berantai terjadi kekacauan dan kerusakan akhlaq. Hal ini menyebabkan sahabat-sahabat yang masih ada, dan pemuka-pemuka islam yang mau berfikir, berikhtiar membangkitkan kembali ajaran islam, kembali ke masjid/i’tikaf, kembali mendengarkan kisah-kisah mengenai targhib dan tarhib, mengenai keindahan hidup zuhud dan sebagainya. Ini benih Tasawuf yang paling awal.
10
BAB III
KESIMPULAN
Dari pembahasan yang sebelumnya dapat di ambil kesimpulan, bahwa ada tujuh para ulama’ dan peneliti yang mendefinisikan tentang Tasawuf, namun ada satu pendapat yang paling kuat adalah pendapatnya Al-Qusyairy. Karena pada umumnya orang-orang memberikan nama panggilan kepada orang lain berdasarkan kebiasaan lahiriah yang paling menonjol padanya; misalnya pakaiannya. Karena ciri khas yang paling menonjol dan mudah diketahui pada orang Tasawuf adalah pakaian wolnya maka ia dinamakan Shufi .
Banyak ulama’ yang berbeda pendapat tentang permulaan munculnya Tasawuf. Sejarah Tasawuf dimulai imam Ja’far Al-Shadiq ibnu Muhamad Bagir ibnu Ali Zaenal Abidin ibnu Husain ibnu Ali bin Abi Thalib. Imam Ja’far juga dianggap sebagai guru dari keempat imam Ahlulsunnah, yaitu Imam Abu Hanifah, Maliki, Syafi’i, dan ibnu Hambali. Namun, benih tasawuf yang paling awal yaitu Sebagaimana telah di ketahui, bahwa sejarah islam telah ditandai dengan peristiwa tragis, yakni pembunuhan terhadap diri khalifah ketiga (Utsman bin Affan Ra). Dari peristiwa itu secara berantai terjadi kekacauan dan kerusakan akhlaq. Hal ini menyebabkan sahabat-sahabat yang masih ada, dan pemuka-pemuka islam yang mau berfikir, berikhtiar membangkitkan kembali ajaran islam, kembali ke masjid/i’tikaf, kembali mendengarkan kisah-kisah mengenai targhib dan tarhib, mengenai keindahan hidup zuhud dan sebagainya.
Sebenarnya Tasawuf pada zaman Nabi sudah mulai tumbuh, akan tetapi belum dinamakan ajaran Tasawuf. Perilaku, sifat, dan kesederhanaan Nabi adalah termasuk Akhlaq Tasawuf. Esensi Tasawuf sebenarnya telah ada sejak Rasulullah Saw, namun Tasawuf sebagai ilmu keislaman yaitu hasil kebudayaan islam sebagaimana ilmu-ilmu keislaman lainnya seperti Fiqih dan Ilmu Tauhid. Pada masa Rasulullah Saw belum dikenal istilah Tasawuf, namun lebih tepatnya mengarah ke Zuhud.
11
DAFTAR PUSTAKA
• Utsman al-hujwiri,Ali ibn,Khasful al- mahjub,new delhi:tas company,1982
• Taimiyah,ibn,al-shuffiyah wa al-fuqoro’,kairo,Mathba’ah al-manar,1348
• Oleh Al-islam-pusat informasi dan komunikasi Islam Indonesia, sumber file al_islam.chm
• Abu Bakar, pengantar sejarah sufi dan tasawuf, Solo:Ramadhani, 1984
12
Tidak ada komentar:
Posting Komentar