Rabu, 30 Juli 2014

Landasan Keberadaan Ilmu Epistemologi dan Aksiologi> (Makalah: Filsafat Ilmu, Semester 3, Oleh: Riyana 11111023 & Achmad Rifai 11111028)

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Perkembangan dan kemajuan peradaban manusia dewasa ini tidak terlepas dari peran ilmu. Bahkan perubahan pola hidup manusia dari waktu ke waktu sesungguhnya berjalan seiring dengan sejarah kemajuan dan perkembangan ilmu. Tahap-tahap itu kita menyebut dalam konteks ini sebagai priodesasi sejarah perkembangan ilmu; sejak dari zaman klasik, zaman pertengahan, zaman modern dan zaman kontemporer.
Kemajuan ilmu dan teknologi dari masa ke masa ibarat mata rantai yang tidak terputus satu sama lain. Hal-hal baru yang ditemukan suatu masa menjadi unsur penting bagi penemuan-penemuan lainnya di masa berikutnya. Satu hal yang tak sulit untuk disepakati, bahwa hampir semua sisi kehidupan manusia modern telah disentuh oleh berbagai efek perkembangan ilmu dan teknologi, sektor ekonomi, politik, pertahanan dan keamanan, sosial dan budaya, komunikasi dan transportasi, pendidikan, seni, kesehatan, dan lain-lain, semuanya membututuhkan dan mendapat sentuhan teknologi.
Satu hal lain yang menjadi karakter spesifik ilmu kontemporer, dalam konteks ini dapat kita temukan secara relatif lebih mudah pada bidang-bidang sosial, yaitu bahwa ilmu kontemporer tidak segan-segan melakukan dekontruksi dan peruntuhan terhadap teori-teori ilmu yang pernah ada untuk kemudian menyodorkan pandangan-pandangan baru dalam rekontruksi ilmu yang mereka bangun. Dalam hal inilah penyebutan “potmodernisme” dalam bidang ilmu dan filsafat menjadi diskursus yang akan cukup banyak ditemukan.
Semua kemajuan tersebut adalah buah dari perkembangan ilmu pengetahuan yang tak pernah surut dari pengkajian manusia. Pengetahuan berawal dari rasa ingin tahu kemudian seterusnya berkembang menjadi tahu. Manusia mampu mengembangkan pengetehuan disebabkan oleh dua hal utama; yakni : pertama, manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut. Kedua, yang menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuannya dengan cepat adalah kemampuan berfikir menurut suatu alur kerangka berfikir tertentu. Pengetahuan (knowlodge atau ilmu) adalah bagian yang esensial-aksiden manusia, karena pengetahuan adalah buah dari “berfikir”. Berfikir (natiqiyyah) adalah sebagai differentia (fashl) yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya, yaitu hewan. Dan sebenarnya kehebatan manusia “barangkali” keunggulannya itu dari spesies-spesies lainnya karena pengetahuannya. Kemajuan manusia dewasa ini tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya. Lalu apa yang telah dan ingin diketahui oleh manusia ?, Bagaimana manusia berpengetahuan ?, Apa yang ia lakukan dan dengan apa agar memiliki pengetahuan ?, Kemudian apakah yang diketahui itu benar ?, Dan apa yang menjadi tolak ukur kebenaran?, Bagaimana kebenaran itu diaplikasikan ?
Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya sederhana sekali karena pertanyaan ini sudah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah masuk ke alam realita. Namun ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu, maka akan ada aturan yang harus diperhatikan dalam mengkajinya melalui landasan-landasan atau dasar-dasar ilmu, yaitu landasan epistemologi, dan landasan aksiologi. Dengan demikian dapat memberikan pemahaman tentang suatu kerangka pendekatan pencarian kebenaran, proses yang ditempuh dalam pencarian kebenaran tersebut dan sejauhmana kebenaran itu dapat dikatakan bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Oleh karena itu, permasalahan tersebut perlu diuraikan lebih lanjut melalui tema : “Landasan Epistemologi Dan Aksiologi Dalam Filsafat Ilmu”.

B.    Perumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan di atas, dapat dirumuskan sebagai berikut :
A.    Apa pengertian Epistemologi dan Aksiologi ?
B.    Apa yang dimaksud dengan landasan epistemologi ?
C.    Apa yang dimaksud dengan landasan Aksiologi ?
D.    Bagaimana hubungan antara kedua  landasan tersebut ?

C.    Tujuan Penulisan
1.    Untuk mengetahui makna landasan epistemologi
2.    Untuk mengetahui makna landasan aksiologi
3.    Untuk mengetahui hubungan kedua landasan tersebut

D.    Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah ini terdiri dari :
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
B.    Perumusan Masalah
C.    Tujuan Penulisan
D.    Sistematika Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian Epistemologi dan Aksiologi
B.    Landasan Epistemologi
C.    Landasan aksiologi
1.    Tujuan Ilmu
2.    Ilmu dan Moral
3.    Ilmuan dan Tanggung Jawab Sosial
BAB III PENUTUP
Kesimpulan


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Epistemologi dan Aksiologi
Secara etimologis, ‘epistemologi’ berasal dari bahasa Yunani ‘episteme’ yang berarti pengetahuan atau ilmu pengetahuan, dan logos yang juga berarti pengetahuan. Jadi, epistemologi berarti pengetahuan mengenai pengetahuan yang sering disebut ‘ teori pengetahuan ( theory of knowledge ). Persoalan sentral epistemologi adalah mengenai persoalan apa yang dapat kita ketahui dan bagaimana cara mengetahuinya, “ What can we know, and bow do we know if “ ( Lacey :1976 ).
Sedangkan secara sederhana, aksiologi berarti nilai guna ( Suriasumantri, 1984: 227 ). Sedangkan dalam kajian filsafat, istilah aksiologi biasannya diartikan suatu bidang ( filsafat ) yang menyelidiki nilai – nilai (Values ), termasuk didalam nyatentang tujuan memperoleh pengetahuan (muhaimin,1991:2). Atau dengan kata lain,bidang ini akan menjawab pertanyaan:untuk apa atau kemana sesuatu itu akan dibawa ?.
B.    Landasan Epistemologi
Penelaahaan landasan epistimologi ilmu dimaksudkan untuk memberikan kejelasan mengenai persoalan yang berkaitan dengan cara memperoleh pengetahuan. Karena itu, epistimolgi ilmu bersangkut paut dengan prosedur dan proses yang memungkinkan seseorang memperoleh ilmu. Lebih jauh, epistimologi membahas tidak hanya cara-cara yang benar untuk memperoleh ilmu, tetapi juga mempersoalkan konsep dan kriteria kebenaran keilmuan. Dengan mempertimbangkan bahwa selama ini sudah berkembang epistimologi yang bertolak dari kaidah pemisahan antara kebenaran “ilmiah” dan kebenaran “agama” (secular) maka tidak bisa dihindari bagian ini menyandingkan dan membandingkan antara paradigma sekularis dengan paradigma islam.

Lazim diterima bahwa pengetahuan merupakan istilah umum (general term) yang mencakup segenap bentuk pengetahuan, maka secara garis besar pengetahuan dapat digolongkan menjadi tiga kategori utama yaitu :
1.    Pengetahuan tentang apa yang baik dan yang buruk (ethics)
2.    Pengetahuan apa yang indah dan apa yang jelek (esthetics)
3.    Pengetahuan tentang apa yang benar dan apa yang salah (logics).
Pengertian logika secara luas yang tidak hanya menyangkut kaidah-kaidah penalaran dan penarikan kesimpulan akan menempatkan sains bentuk pengetahuan tentang apa yang dan apa yang salah. Sehingga bisa dikategorikan sebagai bagian dari logika.
Dalam makna terbatas sbagai sains, memang benar bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang berupaya menjelaskan rahasia alam agar gejala-gejala alamiah terpahami, sehingga tidak lagi menjadi misteri . Dalam pengertian terbatas ini, ilmu membatasi ruang jelajahnya pada pengalaman manusia. Artinnya, objek penelaahan ilmu meliputi segenap gejala yang dapat ditangkap oleh pengalaman manusia lewat penerapan indranya.
Pembatasan ontologis tersebut berimplikasi pada kaidah-kaidah epistemologis ilmu dalam perspektif sekularisme. Implikasi paling kentara dari pembatasan ontologis tersebut berupa penerapan semata-mata dua landasan filsafat ilmu, yaitu : rasionalisme dan empirisme. Apa yang dikenal sebagai metode sains modern adalah perpaduan antara dua aliran besar dalam epistemologi beserta implikasinya. Berikut dapat disajikan dalam bentuk tabel :
Aliran Filsafat    Rasionalisme    Empirisme
Sumber Pengetahuan    Pikiran    Indra
Teori kebenaran    Koherensi    Korespondensi
Metode penyimpulan    Deduksi    Induksi
Sifat dasar kesimpulan    Derivasi    Generalisasi
Jenis pengetahuan            Apriori    Aposteriori
Hasil perpaduan    Menjadi Positivisme bila berpadu dengan realisme menjadi Interpretivisme bila berpadu dengan idealisme
Tampak bahwa epistemologi rasionalisme meyakini pikiran sebagai sumber pengetahuan, menerapkan teori kebenaran koherensi, mengandalkan metode penyimpulan deduktif, sehingga hakekat kesimpulannya adalah derivasi dari premis-premis yang lebih umum, dan menghasilkan jenis pengetahuan apriori. Sebaliknya, epistemologi empirisme meyakini indra sebagai sumber pengetahuan, menerapkan teori kebenaran korespondensi, mengandalkan metode penyimpulan induktif, sehingga hakekat kesimpulannya adalah generalisasi dari kasus-kasus spesifik, dan menghasilkan jenis pengetahuan aposteriori.
Diletakkan dalam kontinum idealisme-realisme, maka perpaduan epistemologi rasionalisme dan empirisme melahirkan dua paradigma besar kajian, yaitu : positivisme dan interpretivisme. Dengan ungkapan lain, positivisme adalah perpaduan rasionalisme dengan empirisme dengan kecenderungan realisme, sedangkan interpretivisme adalah perpaduan antara rasionalisme dengan empirisme dengan kecenderungan idealisme.
Bagi kaum positivis-realis, ilmu pengetahuan merupakan gambaran yang sebenarnnya dari apa yang ada di alam nyata. Pencitraan atas alam nyata sebagaimana tergambar dalam alam pikiran, menurut kaum positivis-realis, merupakan salinan objektif dari fenomena yang berada di luar akal manusia. Realisme berpendapat bahwa ilmu pengetahuan membawa kebenaran apabila sesuai dengan kenyataan. Bagi kaum interpretivis-idealis, gambaran yang benar-benar tepat, sesuai dengan kenyataan merupakan suatu kemustahilan, karena pengetahuan merupakan proses mental yang bersifat subjektif. Karena itu, pengetahuan bagi seorang interpretivis-idealis hanya merupakan gambaran subjektif, bukan gambaran objektif tentang kenyataan. Pengetahuan keilmuan tidak pernah terlepas dari bingkai subjek manusia.
Ada tiga kriteria umum yang senantiasa dijadikan tolok ukur oleh para ahli untuk menentukan apakah suatu pengetahuan  menemukan atau mencapai “kebenaran”. Pertama, kriteria koherensi yaitu teori kebenaran yang didasarkan pada konsistensi argumentasi. Jika pengetahuan tersebut dikembangkan berdasar alur berifikir yang konsisten, maka kesimpulan yang ditariknya adalah benar. Sebaliknya apabila dasar argumentasi yang digunakan tidak konsisten, maka kesimpulan yang ditariknya adalah salah. Secara keseluruhan agar dapat disebut benar, argumentasi konsisten tersebut juga harus bersifat koheren. Ini berarti bahwa selain alur pemikiran bersifat konsisten, keseluruhan komponen juga harus terpadu secara utuh, baik ditinjau dari sudut argumentasi, maupun dari sudut pengetahuan-pengetahuan sebelumnya yang dianggap benar.
Kedua, kriteria korespondensi yaitu teori kebenaran yang mendasarkan diri kepada kriteria tentang kesesuaian antara aspek prosisional dengan aspek material, antara pernyataan dengan kenyataan. Sebuah proposisi yang menyatakan bahwa ait laut berasa asin, akan diterima sebagai kebenaran sepanjang kenyataan menunjukkan bahwa air laut berasa asin. Sebaliknya, ketika suatu pernyataan tidak sesuai dengan kenyataan maka pernyataan tersebut harus dinyatakan salah. Kebenaran dan kesalahan dalam teori korespondensi disimpulkan berdasarkan proses pengujian empirik (empirical verification).
Ketiga, pragmatisme yaitu teori kebenaran yang mendasarkan diri kriteria keberfungsian suatu pernyataan dalam lingkup ruang dan waktu tertentu. Jadi sejauh suatu proposisi bersifat fungsional untuk menjelaskan, meramalkan dan mengendalikan suatu gejala, maka secara pragmatik proposisi teoretik itu dinya takan benar. Sejalan dengan waktu, apabila masyarakat ilmiah bisa mengajukan proposisi teoretik yang lebih fungsional, maka proposisi teoretik yang lebih fungsional yang akan diterima sebagai kebenaran.
Demikian gambaran umum mengenai epistemologi ilmu yang berakar pada sejumlah aliran filsafat sekuler. Tidak bisa dipungkiri bahwa epistemologi ilmu sekularistik telah mengantarkan umat manusia kepada ilmu dan teknologi modern. Sebegitu jauh, juga tidak bisa dipungkiri bahwa ilmu dan teknologi hanya bisa menyediakan manusia kendaraan untuk sampai ketempat yang dituju. Sedangkan pertanyaan lebih jauh tentang untuk apa setelah sampai ditempat yang dituju, ilmu dan teknologi modern sama sekali tisak memberikan jawaban. Karena itu, di kalangan ilmuwan berkenbang kaidah yang memikat tetapi berbahaya, bahwa ilmu dan teknologi adalah netral.Alih-alih mengadopsi begitu saja epistemologi keilmuan sekularistik. Umat islam perlu mengembangkan secara khusus epistemologi keilmuannya. Sudah barang tentu, titik tolak yang digunakan adalah al-Qur’an yang diyakini merupakan petunjuk bagi umat manusia.

C.    Landasan Aksiologi
Sebagaimana diuraikan diatas, landasan aksiologi mempertanyakan, untuk apa ilmu itu dipergunakan. Ini menyangkut nilai kegunaan ilmu. Berangkat dari pengertian aksiologi ini, maka dalam bagian ini akan dibahas:
1.    Tujuan Ilmu
Secara sederhana ilmu bertujuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh manusia. ilmu ditujukan untuk menjawab permasalahan kehidupan yang sehari-hari dihadapi oleh manusia, dan untuk digunakan dalam menawarkan kemudahan kepadanya.
Dalam pandangan islam, ilmu diarahkan untuk meningkatkan derajad dan martabat kemanusiaan serta untuk mengakui adanya kebesaran dan kekuasaan Tuhan. Sehubungan dengan ini, Marwah Daud Ibrahim merinci tujuan ilmu dalam pandangan islam sebagai berikut:
a.    Membantu manusia untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah swt.
b.    Membantu manusia untuk mensyukuri nikmat-Nya.
c.    Membantu manusia untuk menjalankan tugas kekhalifahannya.
2.    Ilmu dan Moral
Sejak saat pertumbuhannya, ilmu tidak bisa dilepaskan dengan masalah-masalah moral, meski dalam perspektif yang berbeda. Sebagaimana diketahui, bahwa perkembangan ilmu dan teknologi modern telah memunculkan banyak persoalan moral. Akan tetapi, apakah persoalan moralitas yang muncul tersebut disebabkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi? Banyak pendapat yang menyatakan bahwa persoalan moralitas yang muncul tersebut bukanlah disebabkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri, melainkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab, yang tidak mempunyai kepedulian terhadap moral atau etika, sehingga tujuan ilmu yang mulia itu disalahgunakan untuk tujuan-tujuan yang tidak baik.
Sehubungan dengan ini, Al-Qur’an memberikan landasan etis sebagai berikut:
a.    Bahwa dalam pengembangan ilmu haruslah berusaha menemukan keteraturan atau sistem, sebab akibat, dan tujuan dialam semesta.
b.    Ilmu haruslah dikembangkan untuk mengambil manfaat dalam rangka mengabdikan kepada-Nya.
c.    Harus dikembangkan dengan tidak menimbulkan malapetaka, kerusakan dibumi, baik kerusakan alam / lingkungan maupun diri manusia.
d.    Tujuan utama ilmu ialah mengenal tanda-tanda Allah, menyaksikan kehadiran-Nya diberbagai fenomena yang kita amati, dan akhirnya mengungkapkannya dan bersyukur kepada-Nya (bacs Q.S. Ali Imran/3: 190-191).
Berdasarkan uraian diatas, maka dalam kaitannya dengan persoalan moral yang muncul akibat perkembangan ilmu dan teknologi, peran ilmuwan tidak bisa dihindarkan. Sehingga dalam perkembangan ilmu dan teknologi perlu memperhatikan prinsip-prinsip diatas. Dengan kata lain, prinsip-prinsip moral yang telah dipaparkan dalam al-Qur’an tersebut harus dimiliki oleh setiap ilmuwan.
3.    Ilmuan dan Tanggung Jawab Sosial
Kedudukan ilmuwan ditengah-tengah masyarakat mempunyai peranan yang sangat penting. Ilmu merupakan hasil karya perorangan yang dikomunikasikan secara terbuka kepada masyarakat. Atau dengan  kata lain, penciptaan ilmu bersifat individual, namun komunikasi dan penggunaan ilmu bersifat sosial. Sehingga, sebagai ilmuwan tidak boleh berhenti pada penelaahan dan ilmuuwan secara individual, namun juga harus bertanggung jawab agar produk keilmuwan sampai dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Jelaslah kiranya bahwa seorang ilmuwan mempunyai tanggung jawab sosial yang terpikul di bahunya.
Dalam kaitannya diatas, Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya pengantar ke filsafat ilmu menyatakan, bahwa tanggung jawab seorang ilmuwan adalah :
a.    Memberikan perspektif yang benar: untung dan ruginya, baik dan buruknya, sehingga penyelesaian suatu objek dapat dimungkinkan.
b.    Harus dapat  mempengaruhi opini masyarakat terhadap masalah-masalah yang seyogyannya mereka ketahui.
c.    Dalam bidang etika, tanggung jawab seorang ilmuwan bukan memberi informasi, melainkan memberikan contoh.


BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
•    Pengkajian tehadap suatu bidang pengetahuan harus dibangun dari fondasi filsafat yang kuat, jelas, terarah, sistematis, berdasarkan norma-norma keilmuan dan dapat dipertanggung jawabkan. Filsafat ilmu merupakan kajian yaang dilakukan secara mendalam mengenai dasar-dasar ilmu.
•    Epistemologi adalah ilmu yang mempelajari mengenai persoalan apa yang dapat kita ketahui dan bagaimana cara mengetahuinya.
•    Aksiologi ialah untuk apa sesuatu itu atau kemana sesuatu itu akan dibawa ?
•    Landasan Epistemologi yaitu berkaitan dengan cara memperoleh pengetahuan, dengan prosedur dan proses yang memungkinkan seseorang memperoleh ilmu.
•    Landasan Aksiologi mempertannyakan, untuk apa ilmu itu dipergunakan, ini mennyangkut nilai kegunaan ilmu.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Syamsul dkk.  Spiritualisasi Islam dan Peradaban Masa Depan.   Sipress.  Yogyakarta : 1996
Suhartono, Suparlan Ph.D.  Filsafat Ilmu Pengetahuan.  Ar-Ruzz. Jogjakarta : 2005
Suprayogo, prof.Dr.H.imam.Quo vadis pendidikan islam.cendekia paramulya.malang : 2006

Tidak ada komentar:

Posting Komentar