Rabu, 30 Juli 2014

Haid dan Nifas> (Fiqh 1, Semester 3, Oleh: Siti Asiyah 11111014, Aji Abidin 11111026, Achmad Rifai 11111028)

PEMBAHASAN
A.    HAID DAN NIFAS
1.    Pengertian Haid dan Nifas
Haid yaitu darah yang keluar dari pangkal rahimnya seorang perempuan pada beberapa waktu yang dikhususkan.  Darah haid keluar mulai umur 9 tahun, apabila seorang perempuan tersebut mengeluarkan darah sebelum sempurnanya umur 9 tahun (9 tahun kurang 16 hari) maka darah tersebut adalah haid. Paling sedikitnya masa haid yaitu 1 hari 1 malam, umumnya masa haid 6-7 hari dan  paling lamanya adalah 15 hari.  Masa haid berakhir pada usia maksimal 50 tahun. Oleh karena itu, apabila melihat keluarnya darah melalui kemaluannya setelah usia 50 tahun maka dalam hal ini ada dua penjelasan:
a.    Hal itu dianggap sebagai proses sirkulasi darah yang mengalami kerusakan. Karena Aisyah pernah menceritakan: “Apabila seorang wanita telah mencapai usia 50 tahun, maka ia udah tidak mengalami masa haid lagi.
b.    Apabila darah tersebut mengalir secara berulang-ulang. Maka ia termasuk darah haid. Maka inilah yang paling benar. Sebab hal itu tidak jarang ditemukan dikalangan kaum wanita. Sebagaimana diriwayatkan bahwa Hindun binti Ubaidah bin Abdullah bin Zam’ah melahirkan Musa bin Abdullah bin Hasan bin Hasan bin Ali Ra. pada usia 60 tahun.
Sementara Ibnu Bakar mengatakan bahwa wanita yang telah berusia 50 tahun tidak akan melahirkan, kecuali pada wanita-wanita bangsa arab dan wanita yang telah berusia 60 tahun tidak akan melahirkan kecuali wanita Quraish. Wanita non- arab merasa putus asa pada usia 50 tahun, sedangkan wanita Arab masih melahirkan sampai pada usia 60 tahu karena mereka jauh lebih kuat dari sisi fisik untuk melahirkan.
Nifas atau nufas, dengan (dhammah nun) yaitu darah yang keluar dari qubul perempuan sesudah melahirkan.  Jadi yang dimaksud dengan nifas adalah darah haid yang keluar setelah kosongnya rahim seorang perempuan. Paling sedikitnya nifas yaitu setetes, umummnya masa nifas 40 hari dan paling lamanya 60 hari.
2.    Ciri-ciri Darah Haid
Ciri-ciri darah haid berwarna seperti darah. Yaitu merah kekuning-kuningan dan keruh. Atau pertengahan antara hitam dan putih. Jika kelihatan putih bersih maka itu bukan darah haid. Dan pengikut hanafi menghubungkan warna ini kepada warna hitam, hijau, dan warna tanah (coklat). Sedangkan syafi’i hanya menghubungkannya kepada warna hitam dan warna merah kekuning-kuningan.
Syaratnya perempuan yang bersangkutan tidak sedang hamil. Jika dia sedang hamil, maka darah yang keluar tsb bukan darah haid tetapi darah penyakit.
Tetapi syafi’i dan maliki berpendapat darah yang keluar dari orang hamil bisa juga dikatakan darah haid. Bahkan pengikut syafi’i mengatakan, masa haidnya didalam hamil harus diperhitungkan seperti biasa ketika dia tidak hamil. Artinya apabila darah itu keluar berlebih dari masa haidnya yang biasa, maka tidak dihukumkan sebagai orang haid.
Maliki mengatakan, apabila perempuan hamil mengeluarkan darah sesudah dua bulan kehamilannya sehingga sampai enam bulan, maka masa haidnya diperkirakan sekitar dua puluh hari, jika dia masih berulang-ulang mengeluarkan darah. Dan setelah enam bulan kehamilan sampai melahirkan, diperkirakan masa haidnya sekitar tiga puluh hari. Apabila dia mengeluarkan darah pada bulan pertama dan kedua dari kehamilannya, yang demikian itu adalah darah haid biasa.  
3.    Batasan Waktu Bersuci Haid dan Nifas
a.    Batasan Suci Haid
Paling sedikitnya batasan waktu suci yang memisah antara awal haid dengan haid sesudahnya minimal harus 15 hari 15 malam. Paling lama suci tidak ada batasnya. Kadang-kadang ada wanita yang mengalami haid 2 bulan sekali, 1 tahun sekali, ada yang 2 tahun sekali, seperti Putri Baginda Rosulullah Saw, Sayyidah Fathimah Az-zahro’ Ra.
b.    Batasan Suci Nifas
Batas suci dari nifas adalah dengan putusnya darah nifas atau dengan mencapainya darah nifas lebih dari hari ke-60 dari melahirkan. Maksimal suci yang memisah antara nifas dengan nifas tidak ada batasnya. Minimal suci yang memisah antara nifas dengan nifas tidak di syaratkan harus 15 hari 15 malam seperti halnya minimal suci yang memisah antara haid dengan haid setelahnya. Disaat darah nifas belum putus dia mengalami keguguran dan mengalami dan pendarahan. Dalam kasus ini ada dua darah nifas yang tidak dipisah oleh masa suci. Sedangkan batas maksimalnya berdasarkan mazhab hambali adalah 40 hari.
4.    Hal-hal yang diharamkan Ketika Haid
Adapun beberapa hal yang haram dilakukan wanita ketika mengalami haid antara lain:
a.    Shalat
Wanita yang sedang menjalani masa haid dilarang untuk mengerjakan shalat. Hal ini didasarkan pada hadits dari Rasulullah : “Apabila datang masa haidmu, maka tinggalkanlah shalat.” (Muttafaqun Alaih).
Aisyah ia pernah bercerita : “Kami pernah menjalani masa haid pada zaman Rasulullah, maka kami diperintahkan mengqadha puasa dan tidak diperintahkan menqadha’ shalat.” (Muttafaqun Alaih).
Ibnu Mundzir mengatakan: Para Ulama telah bersepakat untuk menghapuskan kewajiban shalat bagi wanita yang tengah menjalani masa haid. Menurut mereka, menqadha shalat yang ditinggalkan selama masa haid itu tidak diwajibkan.
Juga hadits yang diriwayatkan dari Mu’adzah dimana ia bercerita: “Aku pernah bertanya kepada Aisyah, bagaimana hukum wanita haid yang mengqadha puasa dan tidak mengqadha shalat? Aisyah bertanya: Apakah engkau wanita merdeka? Aku menjawab: Tidak, akan tetapi aku hanya sekedar bertanya. Lalu Aisyah berkata: Kami pernah menjalani haid pada masa Rasulullah, maka kami diperintahkan mengqadha puasa dan tidak diperintahkan mengqadha shalat.” (Muttafaqun Alaih).
Lebih lanjut Aisyah mengatakan, bahwa hal itu ia sampaikan kepada Mu’adzah, karena golongan Khawarij berpendapat: wanita yang mengalami masa haid itu harus menqadha’ shalatnya.
b.    Puasa
Wanita muslimah yang sedang menjalani masa haid tidak diperkenankan untuk menjalankan ibadah puasa. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah:
“Bukankah salah seorang diantara mereka (kaun wanita) apabila menjalani masa haid tidak mengerjakan shalat dan tidak berpuasa? Para sahabat wanita menjawab: Benar” (HR. Al-Bukhari)
Namun demikian, wanita yang menjalani masa haid berkewajiban menqadha’ puasa yang ditinggalkan setelah masa haidnya selesai. Ibnu Mundzir pernah meriwayatkan bahwa wanita yang tengah menjalani masa haid berkewajiban menqadha’ puasa.
c.    Membaca dan Menyentuh Al-Qur’an
Bagi wanita yang menjalani masa haid diperbolehkan membaca Al-Qur’an, akan tetapi tidak boleh menyentuh mushafnya. Di samping itu ada pula hadits yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi dari Ibnu Umar, yang berstatus sebagai hadits marfu’: “Wanita yang tengah menjalani masa haid dan juga yang sedang dalam junub tidak boleh sama sekali membaca Al-Qur’an.” (HR. At-Tirmidzi).
Diharamkan pula bagi wanita yang sedang haid menyentuh Al-Qur’an. Hal ini didasarkan pada firman Allah: “Tidak menyentuhnya (Al-Qur’an), kecuali hamba-hamba yang disucikan.” (Al-Waqiah:79). Juga sabda Rasulullah: “Janganlah kamu menyentuh Al-Qur’an kecuali dalam keadaan suci.” (HR. Al-Atsram).
Menurut pendapatnya Imam Syafi’i bahwa perempuan dalam keadaan haid tidak boleh menyentuh, membaca maupun menghafal kecuali dalam keadaan dhorurot.

d.    Berdiam diri dalam masjid
Sebagaimana telah diuraikan dalam pembahasan masalah mandi, bahwa wanita yang sedang haid tidak boleh berdiam diri di dalam masjid, dan diperbolehkan jika hanya sekedar berlalu saja.
e.    Thawaf
Wanita Muslimah juga diharamkan melakukan thawaf jika sedang menjalani masa haid, sebagaimana sabda Nabi kepada Aisyah: “Kerjakanlah sebagaimana orang yang menjalankan ibadah haji, kecuali kmu tidak boleh melakukan thawaf di Ka’bah, sehingga kamu benar-benar dalam keadaan suci.” (Muttafaqun Alaih).
f.    Berhubungan Badan
Seorang istri muslimah yang sedang haid tidak diperkenankan bersetubuh selama hari-hari menjalani masa haidnya, sebagaimana firman Allah: “Karena itu, hendaklah kalian menjauhkan diri dari mereka pada waktu haid dan janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka benar-benar suci.” (Al-Baqarah: 222).
g.    Thalaq
Menthalaq istri yang sedang haid adalah haram. Karena, pelaksanaan thalaq semacam ini disebut sebagai thalaq bid’ah (thalaq yang diharamkan).
Hal-hal yang diharamkan bagi wanita pada masa haid diharamkan pula bagi wanita yang menjalani masa nifas, tanpa ada perbedaan di antara keduanya, kecuali hal-hal yang menyangkut thalaq dan iddah.

5.    Hal-hal yang Mubah Ketika Haid dan Nifas
a.    Bercumbu pada bagian-bagian selain kemaluan.
b.    Berdzikir kepada Allah SWT.
c.    Ihram, wuquf di Arafah, semua amalan haji dan umrah kecuali thawaf di sekeliling Ka’bah. Tidak diperbolehkan bagi wanita yang sedang menjalani masa haid serta nifas, kecuali setelah bersuci dan mandi. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah kepada Aisyah Ra.: “kerjakanlah seperti orang yang menjalankan ibadah haji, kecuali melakukan thawaf di Ka’bah sehingga kamu bersuci.”(Muttafaqun Alaib).
d.    Makan dan minum bersama. Hal ini seperti disebutkan di dalam hadits riwayat dari Aisyah ra: “Aku pernah minum air dalam keadaan haid dan memberikan sisanya kepada nabi. Kemudian beliau meletakkan mulut beliau tepat pada bekas mulutku dan meminum air tersebut (Imam Muslim)”.
Selain itu, tidak dimakruhkan bagi wanita yang sedang menjalani masa haid atau nifas untuk memasak, mencuci atau yang lainnya. Berkenaan dengan hal ini, telah diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, di mana dia menceritakan: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah tentang makan bersama istri yang sedang haid dan beliau pun menjawab: diperbolehkan makan bersamanya.”(HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).
Juga diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa orang-orang Yahudi pada masa Rasulullah apabila mendapati istri mereka sedang haid, maka mereka tidak mau mengajak makan bersama dan tidak pula menemaninya di rumah. Lalu salah seorang sahabat wanita bertanya kepada Rosulullah, mengenai hal tersebut dan beliau menjawab dengan bersabda: “Perbuatlah segala sesuatu, kecuali berhubungan badan.”(HR. Muslim).

6.    Hal-hal yang diperbolehkan Ketika Haid dan Nifas
a.    Mencukur rambut dan memotong kuku.
b.    Pergi ke pasar.
c.    Pergi mendengarkan ceramah agama dan belajar memahami Islam, apabila hal tersebut tidak dilakukan di dalam masjid.
d.    Berdzikir, bertasbih, bertahmid, dan membaca basmalah sebelum makan minum.
e.    Membawa hadits, fiqih, do’a dan mengucapkan amin.
f.    Membaca berbagai macam dzikir sebelum tidur.
g.    Mendengarkan bacaan Al-Qur’an.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar